Kerajaan Sriwijaya: Sejarah, Pemerintahan, dan Budaya

kerajaan sriwijaya

Mungkin kamu-kamu semua sudah mengetahui beberapa kerajaan yang pernah mendominasi Nusantara. Nusantara merupakan wilayah kepulauan yang mencakup Jawa dan sumatera yang dimana wilayah tersebut adalah sebagian besar wilayah Indonesia. Dikesempatan kali ini, saya akan mengulas tentang Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya dipercaya berasal dari abad ke tujuh dan mendominasi Nusantara sampai abad ke sebelas. Seorang pendeta Tiongkok yang bernama I Tsing, selama enam bulan ia mengunjungi Kerajaan Sriwijaya tepatnya pada tahun 671. Sriwijaya atau Srivijaya merupakan kerajaan dengan memiliki armada laut yang dahsyat. Mempunyai pengaruh pada Nusantara, juga memiliki kekuasaan dari Kamboja, Thailand selatan, semenanjung Malaya, Sumatera hingga Jawa barat dan ada kemungkinan Jawa tengah pun diliputi kekuasaannya.

Sriwijaya memiliki arti “kemenangan yang gilang-gemilang” Sri diwakili makna sebagai “Gemilang” dan Wijaya diwakili makna sebagai “kemenangan”. Pada abad ke sebelas, kekuasaan Sriwijaya mengalami penyusutan drastis. Pasalnya pada tahun 1025 Kerajaan Sriwijaya mendapat serangan darKoromandel oleh Rajendra Chola I. Dan ditahun 1183 Kerajaan Sriwijaya dibawah kendali Dharmasraya, runtuhnya dinasti Sriwijaya membuat kerajaan tersebut dilupakan. dan diperkenalkan kembali kejayaannya pada tahun 1918 oleh sejarawan George Cœdès dari École française d’Extrême-Orien, Perancis.

 

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

 

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

 

 

  1. Asal-muasal Pembentukan kerajaan Sriwijaya

Terdapat perdebatan tentang pusat wilayah kerajaan Sriwijaya oleh beberapa sejarawan. Namun, kerajaan ini menjadi pusat jual-beli dan tidak memperluas dominasinya di luar wilayah kepulauan asia tenggara. Tetapi ada pengecualian untuk Madagaskar, Kerajaan sriwijaya turut berkontribusi dalam populasi wilayah tersebut yang sejauh 3.300 mil.

Kerajaan Sriwijaya ternyata mempunyai sistim otonomi daerah, dimana daerah pendukungnya dikelola oleh Datu (raja/pemimpin) setempat. Namun, ibukota tetap mendapat pengelolaan langsung oleh penguasa.

 

  1. Siddhayatra

Menurut catatan I Tsing, Dapunta Hyang. Melakukan perjalanan suci siddhayatra dalam tujuan “mengalap berkah” 1.312 prajurit, 312 orang di dalam kapal serta 20.000 bala tentara yang dipimpin olehnya, berjalan kaki dari minanga tamwan menuju Palembang dan jambi. Menurut catatan orang Tionghoa, terdapt dua keajaan yakni Malayu dan Kedan yang menjadi bagian dinasti Sriwijaya.

Di Pulau Bangka terdapat prasasti kota kapur. berdasarkan prasasti tersebut, Kerajaan Sriwijaya telah memerintah bagoan selatan sumatera, Pulau Bangka dan belitung sampai lampung. Sriwijaya berkembang dan sukses mengelola jalur maritim serta perdagangannya.

 

  1. Penaklukan Kawasan

Kerajaan Sriwijaya mengontrol jalur utama niaga di Asia Tenggara, pada abad ketujuh sebelah timur Indochina tepatnya pelabuhan champa memulai pengambil alihan banyak penjual dari kerajaan sriwijaya. Maharaja Dharmasetu megambil tindakan menyerang kota-kota pantai di Indochina untuk mengatasi hal tersebut. Awal abad kedelapan dominasi gencar dilakukan oleh kerajaan Sriwijaya atas kamboja. Yang berdampak pada pemutusan hubungan kerajaan oleh Kerajaan Khmer yang dipimpin Raja Jayawarman II, di akhir abad kedelapan kerajaan-kerajaan di Jawa yakni Tarumanegara dan Holing diakuisisi oleh Kerajaan Sriwijaya.

 

  1. Kekayaan Sriwijaya

Sriwijaya memiliki hasil bumi meliputi kayu gaharu, cengkeh, kayu cendana, pala, kapulaga, kapur barus, gambir dan lain sebagainya. Sriwijaya memiliki tanah yang teramat subur dan kekuasaan yang sangat luas.

 

  1. Masa Penurunan

Kerajaan Chola yang dipimpin Rajendra Chola I memulai ekspansi penyerangan kerajaan Sriwijaya pada tahun 1017 dan 1025. Beberapa puluhan tahun setelahnya kejayaan sriwijaya takluk dibawah dinasti Chola. Faktor alam menjadi salah satu penurunan pengaruh kerajaan Sriwijaya, endapan lumpur pada Sungai Musi dan Sungai lainnya  membuat berkurangnya perniagaan diwilayah Sriwijaya.

Hegemoni kerajaan Chola terhadap Sriwijaya melemah, dan berdampak pada Daerah jajahan melepaskan diri atas invasi Rajendra Chola. Hingga timbul kekuatan baru yang menguasai kembali daerah jajahan Sriwijaya lama, yaitu Dharmasraya dan Pagaruyung .

 

Pemerintahan Sriwijaya

 

Pemerintahan Sriwijaya

 

Struktur kekuasaan politik sriwijaya meliputi Mandala, Kadātuan, Samaryyāda, Vanua, dan Bhūmi. Datu merujuk kepada tanah rumah atau tempat tinggal, tempat emas dan hasil cukai yang wajib dilindungi, kadatuan dikelilingi vanua yang dianggap sebagai daerah kota dari Sriwijaya yang terdapat Vihara untuk tempat peribadatan masyarakat.

Samaryyada merujuk pada kawasan pedalaman sedangkan mandala adalah kawasan berdiri sendiri dari bhumi yang dikontrol kekuasaan kadatuan Sriwijaya.

Pemimpin Sriwijaya dikenal dengan sebutan Dapunta Hyang  atau Maharaja. Dan dalam silsilah raja secara struktur dijelaskan seperti, Yuvaraja dengan arti putra mahkota, Pratiyuvaraja dengan arti putra mahkota kedua, dan rajakumara memiliki arti sebagai pewaris berikutnya.

 

Budaya

 

Budaya

 

  1. Agama

“Terdapat lebih dari 1000 pandita Buddhis di Sriwijaya yang belajar serta mempraktikkan Dharma dengan baik. Mereka menganalisa dan mempelajari semua topik ajaran sebagaimana yang ada di India; vinaya dan ritual-ritual mereka tidaklah berbeda sama sekali [dengan yang ada di India]. Apabila seseorang pandita Tiongkok akan pergi ke Universitas Nalanda di India untuk mendengar dan mempelajari naskah-naskah Dharma auutentik, ia sebaiknya tinggal di Sriwijaya dalam kurun waktu 1 atau 2 tahun untuk mempraktikkan vinaya dan bahasa sansekerta dengan tepat.”

Kutipan diatas berasal dari I Tsing. Sriwijaya adalah pusat penyebar luasan paham Buddha Vajrayana. I Tsing juga menyebutkan bahwa Sriwijaya menjadi tempat untuk sarjana Buddha.

Ajaran Buddha Hinayana dan Budhha Mahayana juga ikut meluas di Wilayah Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya pun dipengaruhi budaya India, Hindu dan Buddha. Baktinya tehadap ajaran Buddha  dengan membangunkan tempat pemujaan di Ligor, Thailand.

Kerajaan Sriwijaya menguasai Melayu dalam kurun waktu dua abad. Sehingga turut andil dalam penyebaran bahasa Melayu di Tanah Nusantara.

 

  1. Seni dan Budaya

Prasasti menjadi keutamaan dalam budaya Sriwijaya.  Beberapa Prasasti sepeti Prasasti Talang Tuo yang mendefinisikan ritual Buddha untuk pemberkatan peristiwa peresmian taman sriksetra, Prasasti Telaga Batu yang memiliki makna kerumitan dan struktur jabatan kerajaan Sriwijaya, dan Prasasti Kota Kapur untuk mengingatkan kehebatan bala tentara sriwijaya atas penaklukan jawa. Bahasa yang digunakan Prasasti tersebut menggunakan bahasa Melayu Kuno. Nenek moyang dari bahasa Melayu dan cikal bakal bahasa Indonesia modern.

Masa Sriwijaya di Jawa Tengah era wangsa Syailendra sangat berbeda dengan pendahulunya, di masa ini kepemimpinan Wansa Syailendra membangun banyak monument besar. Diantaranya adalah, Candi Kalasan, Candi Sewu, Borobudur, Candi Muaro Jambi, Candi Muara Takus, dan Biaro Bahal.

Perbedaan Candi ini terletak pada batu yang menjadi bahan bangunannya, Jika candi di wilayah Jawa Tengah terbuat dari batu andesit, maka lain pula dengan candi di wilayah sumatera yang menggunakan bata merah dalam pembuatan candinya.

 

  1. Raja-Raja Sriwijaya
  • Sri Jayanasa atau Dapunta Hyang: (Tahun  671)
  • Rudra Vikraman: (Tahun  728)
  • Sri Maharaja: (Tahun  702)
  • Dharanindra atau Rakai Panangkaran: (Tahun  778)
  • Samaragrawira atau Rakai Warak: (Tahun  782)
  • Samaratungga atau Rakai Garung: (Tahun  840)
  • Balaputradewa: (Tahun  856)
  • Sri Udayaditya Warmadewa: (Tahun  960)
  • Sri Cudamani Warmadewa: (Tahun  988)
  • Sri Mara Vijayottunggawarman: (Tahun  1008)
  • Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa: (Tahun 1183)

 

Itulah ulasan tentang Kerajaan Sriwijaya, semoga dapat menjadi pengetahuan kita akan nenek moyang di Tanah Nusantara ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *